Senin, 17 Mei 2010

TRIASE

I. Definisi

Triase berasa dari bahasa Perancis, trier, yang berarti "menseleksi", yaitu teknik untuk menentukkan prioritas penatalaksanaan pasien atau korban, saat sumber daya terbatas.


II. Prinsip

1. Menyeleksi pasien dan menyusun prioritas berdasarkan beratnya penyakit

2. Alokasi dan rasionalisasi sumber daya

"The greatest good for the greatest number"

Perhatian dititikberatkan pada pasien dengan kondisi medis paling urgent dan paling besar kemungkinannya untuk diselamatkan.


III. Klasifikasi

1. Triase di UGD

Triase di UGD rumah sakit harus selesai dilakukan dalam 15-20 detik oleh staf medis atau non-medis (melalui training) sesegera mungkin setelah pasien datang. begitu tanda kegawatdaruratan teridentifikasi, penatalaksanaan dapat segera diberikan untuk menstabilkan kondisi pasien.

Emergency Triage Assesment and Treatment (ETAT) mengidentifikasi pasien anak dengan tanda gawat darurat yang paling sering terjadi di negara berkembang yang harus di utamakan untuk mendapatkan pertolongan segera, yaitu meliputi ABCD :

a. Airway : Obstruksi saluran nafas

b. Breathing : Penyakit saluran nafas lain seperti infeksi, dan penyakit lain yang mengakibatkan distress pernafasan berat

c. Circulation : Shock atau gangguan sirkulasi

d. Convulsion dan Coma : gangguan fungsi sistem saraf pusat seperti konvulsi dan koma

e. Dehydration : dehidrasi berat

Kelompok pasien dengan tanda prioritas yang perlu mendapat pertolongan segera tapi bukan keadaan emergency, yaitu : bayi usia kurang dari 2 bulan, demam sangat tinggi, trauma yang memerlukan pembedahan segera, tampak sangat pucat, keracunan, nyeri hebat, distress pernafasan, gelisah, irritable atau letargia, rujukan, malnutrisi berat, oedema kedua kaki dan luka bakar luas.

Prinsip Triase di UGD : Korban dengan kondisi medis paling berat ditolong lebih dahulu dengan semua sarana yang ada. Korban dengan kondidi medis paling ringan masuk daftar antrian.


2. Triase in-patient

Setting di unit perawatan, misal : ICU, kamar bedah dan unit rawat jalan


3. Triase Incident

Pada setting kecelakaan. Prioritas pada evakuasi dan penanganan pasien.


4. Triase Militer

Pada setting medan pertempuran. terdapat keterbatasan sumber daya.


5. Triase Bencana/Massal

Pada setting bencana dengan korban massal yang melebihi kemampuan sistem pelayanan kesehatan lokal dan regional.

Prinsip : "The greatest good for the greatest number"

Kategori bencana :

a. Bencana Alam (Natural Disaster)

b. Bencana karena tindakan manusia (Man-made disaster), misalnya kecelakaan industri yang berskala besar

c. Bencana kompleks. Misalnya konflik horizontal akibat SARA di suatu wilayah.

Anggota triase harus membuat keputusan sulit : yang mana pasien yag harus didahulukan untuk waktu dan sumber daya terbatas.

Korban dengan luka sangat berat tidak lagi menjadi prioritas utama penanganan; korban dengan prognosis yang lebih baik justru lebih diutamakan.

Dalam konsep triase bencana, proses triase terjadi pada beberapa titik, yaitu :

a. Triase primer

terjadi di lokasi bencana. Assesment dan penanganan korban sering ditetapkan berdasarkan kriteria yang sangat sederhana yang dapat dilakukan dengan cepat.

b. Triase sekunder

Dilakukan oleh dokter di UGD saat korban datang di rumah sakit. mereka menentukan prioritas pasien dengan menempatkan pasien ke unit-unit intervensi awal dan keputusannya lebih akurat. Tujuan akhirnya adalah untuk memberikan intervensi ABC awal (bukan resusitasi penuh)

c. Triase Tersier

Menentukan ke ruang mana pasien akan mendapatkan penanganan lebih lanjut, misalnya ke ICU, ruang operasi, atau ruang radiologi untuk mencari penyebab pasti, menegakkan diagnosis, dan memberikan penatalaksaan definitive dan menentukan prognosis pasien.


IV. Kategori

1. Segera- Immediate (I)- MERAH

Pasien mengalami cedera mengancam jiwa yang kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera. Misalnya : Tension pneumothorax, distress pernafasan (RR< 30x/mnt), perdarahan internal vasa besar dsb

2. Tunda-Delayed (II)-KUNING

Pasien memerlukan tindakan defintif tetapi tidak ada ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan laserasi terkontrol, fraktur tertutup pada ekstrimitas dengan perdarahan terkontrol, luka bakar <25% luas permukaan tubuh, dsb.

3. Minimal (III)-HIJAU

Pasien mendapat cedera minimal, dapat berjalan dan menolong diri sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya : Laserasi minor, memar dan lecet, luka bakar superfisial.

4. Expextant (0)-HITAM

Pasien menglami cedera mematikan dan akan meninggal meski mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar derajat 3 hampir diseluruh tubuh, kerusakan organ vital, dsb.




Sumber : Setijanto, Eko. 2010. Buku Pedoman Keterampilan Klinis. Surakarta : FK UNS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar