Senin, 17 Mei 2010

Manajemen Luka

Definisi Luka : terputusnya kontinuitas jaringan tubuh.
Tujuan manajemen luka : mendapatkan penyembuhan yang cepat dengan fungsi dan hasil estetik yang optimal

Penyebab keterlambatan penyembuhan luka :
1. Tidak mengidentifikasi masalah-masalah pada pasien yeng mempengaruhi penyembuhan luka
2. Penilaian luka tidak tepat
3. Antiseptik yang tidak tepat
4. Antibiotika topikal dan ramuan obat kurang tepat
5. Teknik balutan yang tidak tepat
6. Perawatan luka yang kurang sesuai
7. Tidak dapat memilih program perawatan luka yang sesuai
8. Tidak mengevaluasi manajemen luka yang diberi

Penyembuhan Luka ( Wound Healing )
4 Fase fisiologis penyembuhan luka :
1. Respons inflamasi akut : hemostasis, pelepasan histamin dan mediator inflamasi lain dari sel-sel yang rusak serta migrasi lekosit ke tempat luka.
2. Fase destruktif : pembersihan debris dan jaringan nekrotik oleh makrofag dan netrofil
3. Fase proliferatif : neovaskularisasi dan diperkuat dengan jaringan ikat.
4. Fase maturasi : adanya re-epitelisasi, kontraksi luka dan reorganisasi jaringan ikat

Perbedaan Luka Primer dan Luka Sekunder :
Luka Primer :
- Menyatukan kedua tepi luka dengan jahitan, plester, skin graft, flap
-
Hanya sedikit jaringan yang hilang
- Luka bersih
- Jaringan granulasi yang dihasilkan sedikit
- Re-epitelisasi sempurna dalam 10-14 hari, menyisakan jaringan parut tipis

Luka Sekunder :
-
Tidak ada tindakan aktif untuk menutup luka, luka sembuh secara alamiah
- Jaringan yang hilang cukup luas
- Jaringan granulasi yang dihasilkan banyak
- Luka terbuka sehinga kadang kotor
- Jaringan granuylasi yang dihasilkan banyak
- Jaringan parut luas dan hipertrofi, jaringan yang dihasilkan kurang kuat

Penilaian Luka (Wound Assesment)
2 hal penting yang pertama dinilai :
1. Adakah kegawatan
2. Luka akut atau kronis

Penilaian terhadap pasien :
1. Anamnesis :
a. Riwayat Luka : mekanisme, kapan, dimana, kontaminasi, perdarahan, faktor yang mempengaruhi luka
b. Keluhan yang dirasakan
c. Riwayat kesehatan dan penyakit pasien secara keseluruhan
d. Riwayat penanganan luka yg sudah diperoleh
e. Konsekuensi luka dan bekas luka bagi pasien.

2. Pemeriksaan klinis
a. Pemeriksaan tanda vital
b. pemeriksaan fisik umum : mencari tanda adanya faktor komorbid
c. Penilaian adanya infeksi :
- gejala dan tanda umum : demam, malaise, limfadenopati regional
- gejala dan tanda lokal : edema, eritema, rasa nyeri, peningkatan suhu lokal, gangguan fungsi (respon inflamasi)
d. Penilaian terhadapa kerusakan struktur di bawah luka


Perdarahan :
1. Perdarahan arteri :
- memancar, pulsatil
- merah terang
- perdarahan hebat dan cepat (bisa syok hipovolemik)
Tatalaksana : eksplorasi segera dan ligasi arteri.

2. Perdarahan kapiler :
- merembes
- merah terang
- bisa syok hipovolemik jika luas
tatalaksanana : kompresi

3. Perdarahan vena :
- mengalir
- merah gelap
tatalaksana : kompresi langsung secara adekuat

PENILAIAN TERHADAP LUKA
1. Inspeksi luka : jenis luka, tahap penyembuhan luka , ukuran luka

* Jenis Luka
a. Jenis luka (Sebab) :
- Abrasi : akibat trauma gesek pada epidermis, jika luas -> kehilangan cairan tubuh, luka harus segera dicuci mencegah infeksi dan tatooing
- Kontusio : karena trauma tumpul atau ledakan, kerusakan jaringan luas, hematoma besar dan dapat menetap, dapat mengakibatkan infeksi dan compartement syndromes
- Laserasi : kekuatan trauma melebihi kekuatan regang jaringan (misal, robekan kulit akibat trauma tumpul) ---> insisi, tension laceration, crush laceration/compression laceration, kombinasi
- Kombinasi

b. Jenis luka (tingkat kontaminasi) :
- Luka bersih --> resiko infeksi <2%
- Luka bersih terkontaminasi --> resiko infeksi < 10%
- Luka terkontaminasi --> resiko infeksi <20%
- Luka kotor/terinfeksi --> terdapat perforasi traktus respiratorius, gastrointestinal, bilier atau genitourinarius, resiko infeksi <40%

c. Jenis luka (onset) :
- Luka akut
- Luka kronis : belum sembuh setelah 3 bulan

* Dasar luka
Keadaan dasar Luka :
- Jaringan nekrotik : berwarna hitam atau kecoklatan (escar)
- Slough : kekuningan dan menutupi luka, seperti serabut
- Jaringan granulasi :jaringan ikat yang mengandung banyak kapiler baru yang akan membantu penyembuhan dasar luka. merah jambu pucat atau kekuningan, mengkilat dan terlihat seperti tumpukan kelereng.
- Jaringan hipergranulasi : pembentukan jaringan granulasi berlebihan. mengganggu migrasi epitel sehingga memperlambat penyembuhan luka
- Jaringan epitel : berwarna putih keperakan atau merah jambu, merupakan epitel yang bermigrasi dari tepi luka. Fase akhir penyembuhan.
- Jaringan terinfeksi

* Lokasi luka
mempengaruhi pemilihan dressing.

* Ukuran Luka
harus di ukur panjang, lebar, lingkar luka dan luas dasar luka, serta peruahan ukuran luka setiap kali pasien datang

* Tipe dan jumlah eksudat
eksudat : serous, serohemoragis, hemoragis, purulen (pus) --> pemilihan dressing
eksudat mengandung banyak protein --> pemantauan kadar protein serum

* Bau
bau luka dikurangi dengan mengaplikasi balutan mengandung antibiotik, balutan mengandung karbon, laval therapy atau gel antibakteri.

* Nyeri
diidentifikasi sebab, kualitas, dan kuantitasnya

* Tepi luka
menyempit atau melebar, menggaung, membentuk kavitas, traktus atau sinus, curam, landai, reguler, iregular, meninggi

* Kulit di sekitar luka


Penatalaksanaan beberapa jenis Luka
tujuan :
1. menciptakan kondisi lingkungan yang optimal untuk penyembuhan luka
2. membersihkan luka dari eksudat dan jaringan nekrotik
3. Melindungi luka dari infeksi
4. Mengeliminasi faktor-faktor yang menggangu penyembuhan luka
5. Menstimulasi pertumbuhan jaringan baru
6. Mengembalikan fungsi
7. Memperbaiki kerusakan jaringan dengan gangguan kosmetik seminimal mungkin


ANESTESI LUKA

Agen anestetikum yang sering digunakan adalah lidocaine 1% atau bupivakain. penambahan epinefrin sebagai vasokonstrikto bertujuan untuk mengurangi perdarahan, dan memperpanjang efek anestesi. Epinefrin tidak boleh diberikan pada area yang divaskularisasi oleh end artery.
efek lidokai berakhir dalam 1 jam, sementara bupivakain dalam 2-4 jam


Mencuci luka
menggunakan air mengalir dan sabun
dilakukan pada :
1.luka dangkal
2. Luka dengan risiko tinggi terjadinya infeksi
Irigasi luka tidak boleh dilakukan pada :
1. Luka sangat luas
2. Luka sangat kotor
3. Luka dengan perdarahan arteri atau vena
4. Luka yang mengancam jiwa

Imunisasi Tetanus


Debridement luka
Debridement adalah proses mengangkat jaringan mati dan benda asing dalam luka untuk memaparkan jaringan sehat di bawahnya.
Kontra indikasi :
1. Penyakit stadium terminal
2. Terapi antikoagulan
3. Pyoderma gangrenosum

Penutupan Luka secara primer
Luka harus ditutup secara primer (dengan jahitan atau flap kulit) jika :
1. Struktur penting di bawah kulit terpapar (otot, tendo, tulang)
2. Luka terjadi di area di mana terbentuknya jaringan parut akan mengganggu fungsi dan mengakibatkan problem kosmetik.
Komplikasi :
1. infeksi
2. Dehidrasi jahitan
3. Benda asing tertinggal
4. Kerusakan jaringan yang lebih dalam tidak teridentifikasi
5. Pembentukan parut
Kontra indikasi :
1. Infeksi
2. Luka dengan jaringan nekrotik
3. Waktu terjadinya luka lebih dari 6 jam sebelumnya, kecuali bila luka di area wajah
4. Luka kotor yang tidak dapat dibersihkan sempurna
5. Perdarahan dari luka
6. diperkirakan terdapat "dead space" setelah dilakukan jahitan
7. Tegangan luka atau kulit disekitar luka terlalu tinggi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar